cintailah ilmu seperti kau cintai pacarmu
kau tidak harus mencintaiku seperti pesakitan,
namun jadilah pengikut setiaku
dengan aksamala, parasu, pecahan gading, mangkuk
akulah dewa ilmu pengetahuan
tak peduli masa lalu maupun masa depan
mereka tunduk padaku!
bahasa huruf maupun bahasa angka fasih kulafalkan
bahkan dengan pena gading dari tubuhku
aku terus menghisap sari pengetahuan dari danau kehidupan
semerbak menjadi padma dalam asanaku
ku tlah ada sebelum para filsuf hadir
ku tlah ada sebelum teori itu sendiri hadir
rumus dan kamus hanyalah salah satu barisan pengikutku
cintailah ilmu seperti kau cintai pacarmu
dimana kau rela apel malam minggu
atau telpon tiap malam
rela penuh derita hanya untuk dipujanya
dimana kemaklumanmu adalah sandi yang harus kau kuasai
seperti doa-doa munajad
laksana mantra-mantra para dukun
apapun resah gelisah harus dihalau pergi
tak harus borong kemenyan bunga tujuh rupa untukku
hanyalah mencintai ilmu yang jadi ruhku
karena akulah pacarmu
jika ilmu adalah pacarmu ...
kau benci dia pergi
kau rindu dia tak tahu
kau datang dia manja
kau cinta dia takluk
dan masa depan adalah arca perwujudannya
tidak peduli atas nama apa pacarmu hadir,
kau harus mafhum dengannya
mungkin menjelma menjadi fisika, kimia, matematika, filsafat, atau seni
jangan pedulikan nama-nama yang hanya sekedar nama itu
mungkin aku pernah menjadi tantrayana karimuka
namun jangan biarkanku begitu
karena gadingku tumbal perantara ilmu untukmu
cukup cintai keberadaannya, utuh
(07.06.08)
hanya istilah seni bukan estetika
Kamis, Agustus 25, 2011
Welcome Ganesha
Welcome Ganesha
Dari jauh kulihat gerbang selatan Ganesha telah melearkan senyumnya untukku.
Ramahnya kini menyertakanku sebagai salah satu pengikutnya.
Seakan dia tahu betapa perjalanan yang tertunda sejak 95 silam terhenti sekarang.
Aku tarik nafas dalam-dalam, karena kesibukanku akan tercurah di selasar kanan beberapa waktu yang akan datang.
Aroma yang kucium sekarang memang bereda dengan 15 tahun lalu saat kuinjakkan kaki disini dengan ketidaktahuan.
Sekarang, setelah begitu banyak hal yang aku korbankan untuk menjadi hamba pena sang Ganesha, maka apakah yang harus aku lakukan?
Pertama: Selalu berusaha keras
Kedua: Fokus dengan tujuan
Ketiga: Selalu bersyukur dengan masa lalu dan hari ini
Ganesha...
Terima kasih masih kau kenali aku
Ganesha...
Terimalah aku jadi pengikutmu
Sebagai hamba ilmu pengetahuan
Dari jauh kulihat gerbang selatan Ganesha telah melearkan senyumnya untukku.
Ramahnya kini menyertakanku sebagai salah satu pengikutnya.
Seakan dia tahu betapa perjalanan yang tertunda sejak 95 silam terhenti sekarang.
Aku tarik nafas dalam-dalam, karena kesibukanku akan tercurah di selasar kanan beberapa waktu yang akan datang.
Aroma yang kucium sekarang memang bereda dengan 15 tahun lalu saat kuinjakkan kaki disini dengan ketidaktahuan.
Sekarang, setelah begitu banyak hal yang aku korbankan untuk menjadi hamba pena sang Ganesha, maka apakah yang harus aku lakukan?
Pertama: Selalu berusaha keras
Kedua: Fokus dengan tujuan
Ketiga: Selalu bersyukur dengan masa lalu dan hari ini
Ganesha...
Terima kasih masih kau kenali aku
Ganesha...
Terimalah aku jadi pengikutmu
Sebagai hamba ilmu pengetahuan
Sabtu, Juni 18, 2011
Short Journey
Beberapa hari ini bisa disebut perjalanan pendek menyesatkan diri di belantara beton-beton gedung pencakar langit. terlalu biasa untuk tersesat di belantara hutan borneo. dan memang lebih membingungkan ketika tersesat di belantara gedung pencakar langit Singapore dan KL. Kota yang telah begitu minim pohon. Similar like our Jakarta. Sangat mirip dengan Jakarta, namun kurasa kebanggaanku sebagai Indonesian masih membuatku merasa Jakarta is better than KL. Okey, Singapore is fine city cleaner than Jakarta. Namun KL tidak begitu.
Perjalanan menyesatkan diri sebagai emak-emak yang berusaha keluar dari rutinitas yang sangat biasa....
Perjalanan menyesatkan diri sebagai emak-emak yang berusaha keluar dari rutinitas yang sangat biasa....
Langganan:
Postingan (Atom)